24 Februari 2009
22 Februari 2009
Confoederatio Helvetica
Desir angin menghembuskan pula rinduku
Terasa hati ingin berbagi
Ada cinta dalam setiap sejuknya
Tapi terasa, takkan sampai padanya
Di hijau Alpen menghembus pula harumnya
Di sela jari-jemari cemara
Ada dahan ditingkap merapuh
Tapi terus saja, menderai sampai jauh
Sepi-menyepi, malam kian hampa
Semoga do’a untukmu tiba
Hidupku kian jauh dari hidupnya
Jadi kita mesti satukan takdir nantinya
-Buat Lie, di Alpen
Kubuatkan sebuah rumah, terpencil ditepi sebuah danau di dataran tinggi. Danau itu tentunya akan tampak kebiru-biruan, dengan gunung gemunung yang ungu di kejauhan dan setiap hari kita akan makan ikan. Kita akan hidup berdua saja, hanya berdua, tiada lain selain berdua selama sisa hidup kita karena tidak akan banyak lagi waktu tersisa. Setiap hari aku akan memakai sarung dan kau akan berkain kebaya
—tidakkah memang indah membayangkan diri hidup bersama dengan seseorang yang benar-benar kita cintai sepenuhnya, dan tiada lain selain dia?
Aku sering terpana menyadari betapa dunia dan segala urusannya menjadi tidak terlalu penting selama kita mendapatkan cinta. (Seno Gumira Ajidarma)
21 Februari 2009
Negeri Gila
Dengan perang di sana-sini
Ini negeri, ceritanya pelindung bangsa-bangsa
Dengan menindas bangsa-bangsa
Ini negeri, ceritanya anti senjata nuklir
Dengan gudang penuh senjata nuklir
Ini negeri, ceritanya mangagungkan liberalisme
Siapa yang berlawanan, mesti di singkir
Ini negeri, ceritanya anti teror
Bikin Afghan, Irak, Palestine diliputi teror
Ini negeri, lain muka, lain belakang
---Munafik
Ini negeri,
Tak waras!
gila!
20 Februari 2009
Sepi, sepi, sepi

Amat sepi,
Terlalu sepi
Tak ada cerita, tak ada cinta
Tak seorangpun membagi-memberi
Aku tidak ingat rasanya nafas,
Atau suara air,
Sentuhan rumput,
Desiran angin, lambaian daun-daun, kicau burung, atau lolongan serigala di bulan purnama
Di sini sepi,
Amat sepi,
Terlalu sepi
Aku telanjang dalam gelap
Dalam kelam hitam malam
Merangkaki dinding buta
Tapi tak teraba
Apapun, siapapun
Dalam temaram,
Ada keraguan antara diriku dan bayangan
Ada kematian menjelang kematian
Kematian?
Apa itu kematian!
19 Februari 2009
Pagi ini akan ada penggusuran
Ini pagi lekas kita berkemas
Sebentar lagi datang petugas
Warung kita memang di lahan terlarang
Tapi kita butuh uang
Kalau sudah begini,
Air matamu dan pukulanku pun tak bisa mencegah
Ah, kita hanya jelata
Mampus dilindes-tindes
Tapi mereka jangan lupa,
Bahwa kita manusia juga
Cintaku, dari balik jendela kaca

Cintaku, dari balik kaca jendela
Memastikan bahwa dia baik disana
Jika ada bahagia, aku kan turut serta
Cintaku, aku simpan dalam buku
Biar dia bisa baca
Dalam kalimat resah,
Dalam bait gelisah
Cintaku, kuberi pada bulan di wajahnya
Biar ia sendiri yang memaknainya
08 Februari 2009
Menari dalam hujan

Menari dalam hujan
Di depan jendela, dia tertegun
Jarinya yang mungil mengikuti aliran air yang menurun perlahan di kaca itu
kemudian, dia tersenyum
Binar matanya menatap titik-titik air yang dijatuhkan langit
“Kekasihku telah datang. Dia telah datang,” sahutnya
Dia tahu, hujan membawakan rindu untuknya
Cepat dia keluar, dan mengkuyupkan diri dalam hujan
“Hujan ini untukku, untukku seorang,” sahutnya
Dia tak mau melewatkan setetespun
Dia tahu, setiap tetesnya adalah cinta dari kekasihnya
Kemudian, dia menari dan bernyanyi
Menyenandungkan lagu-lagu kesayangannya dan kekasihnya
Dalam kuyup, dia rasakan dekapan hangat kekasihnya
Dia menari, terus menari dan terus saja menari, tanpa berhenti, sampai hujan berhenti.
Dan ketika hujan berhenti, dia menangis
Dia tahu, kekasihnya telah pergi
Dia akan kembali menanti,
Hujan datang lagi
-Januari, 2009
Matahari tenggelam di sungai Rhone
Matahari tenggelam di sungai Rhone
Teruntuk Alina yang sendu:
Ku kirim padamu beberapa tetes air mataku
Dalam sehelai amplop berperangko Switzerland
Kuharap cuaca dingin tak membuatnya jadi beku
Kalau di pikir lagi, sudah lama aku tak membaginya padamu
Kau pun begitu.
Tak lagi membasahi bajuku,
Tak lagi sendu menatap wajahku
Apa kau masih sendu?
Kuharap Borneo tak membuatmu begitu
Sebenarnya, aku ingin mengirimkan sekotak tawa
Tapi, setelah aku periksa lagi, satupun aku tak punya
Aku lupa,
Kau kemasi juga tawaku dalam kopermu
Dan aku tak bisa lagi punya
Setelah kau pergi, Alina
Di sini dingin, Alina
Aku selalu ingat kalau dingin begini kita saling berpelukan di sofa lalu pindah ke kamar sampai matahari muncul dan remang pergi
Anehnya kita tak mau berbaju
Dan kita selalu mengantar matahari tenggelam di sungai Rhone dengan berciuman di sebuah bangku usang yang berdecit ketika kita bergerak-gerak
Apa kau ingat itu, Alina?
Aku selalu ingat itu
Kau merindukannya, Alina?
Aku selalu merindukannya, Alina.
Setiap sore aku ke sini dan berciuman dengan perempuan manapun sambil memejamkan mata, membayangkan yang sedang kucium adalah dirimu.
-Januari, 2009
Tulisan terbaru Blog saya lainnya
-
Hasil Lengkap Piala Oscar - Academy Awards 2009 Slumdog Millionaire Jawara! *Slumdog Millionaire sapu bersih delapan piala Oscar. Siapa lagi yang berhasil bawa pulang penghargaan film...
-
Angkatan 2005 di Facebook. - Biographers yang nongkrong di Facebook, sekarang bisa gabung ama grup alumni SMA Negeri 1 Karawang Angk '05. O ya, kalo entar Biographers yang gabung di Fa...
