Desir angin menghembuskan pula rinduku
Terasa hati ingin berbagi
Ada cinta dalam setiap sejuknya
Tapi terasa, takkan sampai padanya
Di hijau Alpen menghembus pula harumnya
Di sela jari-jemari cemara
Ada dahan ditingkap merapuh
Tapi terus saja, menderai sampai jauh
Sepi-menyepi, malam kian hampa
Semoga do’a untukmu tiba
Hidupku kian jauh dari hidupnya
Jadi kita mesti satukan takdir nantinya
-Buat Lie, di Alpen
Kubuatkan sebuah rumah, terpencil ditepi sebuah danau di dataran tinggi. Danau itu tentunya akan tampak kebiru-biruan, dengan gunung gemunung yang ungu di kejauhan dan setiap hari kita akan makan ikan. Kita akan hidup berdua saja, hanya berdua, tiada lain selain berdua selama sisa hidup kita karena tidak akan banyak lagi waktu tersisa. Setiap hari aku akan memakai sarung dan kau akan berkain kebaya
—tidakkah memang indah membayangkan diri hidup bersama dengan seseorang yang benar-benar kita cintai sepenuhnya, dan tiada lain selain dia?
Aku sering terpana menyadari betapa dunia dan segala urusannya menjadi tidak terlalu penting selama kita mendapatkan cinta. (Seno Gumira Ajidarma)

wah, jadi kesandung, hehe....
BalasHapusbentar Lie pasti pulang koq. makasih, dah dibuatkan rumah. apa untuk kita (saja)?
haha...
puitis ih.